
Harga emas dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu setelah sempat tertekan hingga mendekati level psikologis US$4.000 per troy ounce. Pada sesi perdagangan Asia, emas diperdagangkan di kisaran US$4.080 per troy ounce, naik sekitar 1,8%, didorong meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven.
Penguatan emas terjadi seiring memanasnya kembali konflik antara Amerika Serikat dan Iran, yang telah memasuki hari ke-11 berturut-turut. Eskalasi militer tersebut meningkatkan ketidakpastian di pasar global dan mendorong investor kembali memburu aset yang dianggap lebih aman, termasuk emas.
Menurut analis komoditas ING, Ewa Manthey, kenaikan harga emas kali ini lebih banyak dipicu aksi beli setelah harga mengalami penurunan tajam dibandingkan perubahan besar pada fundamental ekonomi.
"Pergerakan kali ini lebih mencerminkan aksi beli saat harga turun daripada respons terhadap berita ekonomi baru," ujarnya.
Di lapangan, situasi geopolitik masih terus memanas. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) kembali melancarkan serangan terhadap Iran untuk hari ke-11 berturut-turut setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata telah berakhir. Sebagai balasan, Iran dilaporkan menyerang sejumlah aset militer AS di kawasan Timur Tengah, sementara kelompok Houthi yang didukung Teheran mengumumkan embargo maritim terhadap Arab Saudi.
Perkembangan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global yang dapat mendorong kenaikan harga minyak. Jika harga energi terus melonjak, tekanan inflasi berpotensi meningkat dan memengaruhi arah kebijakan moneter bank sentral AS.
Di sisi lain, data inflasi Amerika Serikat yang lebih lemah membuat pasar memperkirakan peluang Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga pada pertemuan Juli masih relatif kecil. Meski demikian, pelaku pasar masih memperhitungkan kemungkinan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga hingga akhir 2026, sehingga prospek suku bunga tinggi masih menjadi faktor yang membatasi kenaikan emas.
Untuk jangka pendek, pergerakan harga emas diperkirakan akan tetap dipengaruhi oleh perkembangan konflik di Timur Tengah, dinamika harga minyak dunia, serta ekspektasi kebijakan moneter The Fed. Selama ketidakpastian geopolitik masih tinggi, permintaan terhadap aset safe haven diperkirakan tetap kuat meski tekanan dari prospek suku bunga tinggi belum sepenuhnya mereda.
면책 조항: 본 게시글에 표현된 견해는 전적으로 작성자의 견해이며 Followme의 공식 입장을 대변하지 않습니다. Followme는 제공된 정보의 정확성, 완전성 또는 신뢰성에 대해 책임을 지지 않으며, 서면으로 명시적으로 언급되지 않는 한 해당 내용을 기반으로 취해진 어떠한 조치에 대해서도 책임을 지지 않습니다.
