
Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan tajam pada perdagangan Senin (18/5) siang. Mata uang Garuda bahkan nyaris menyentuh level Rp17.700 per dolar AS, yang menjadi posisi terlemah sepanjang sejarah. Berdasarkan data Bloomberg yang dipantau pada pukul 12.00 WIB, rupiah berada di level Rp17.676 per dolar AS. Angka tersebut menunjukkan pelemahan sekitar 80 poin atau 0,45 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Tekanan terhadap rupiah sebenarnya sudah terlihat sejak awal perdagangan pagi. Saat pembukaan pasar, rupiah tercatat berada di level Rp17.630 per dolar AS atau turun sekitar 33 poin dibandingkan hari sebelumnya. Pelemahan ini sekaligus melampaui level krisis moneter 1998, ketika nilai tukar rupiah sempat berada di kisaran Rp16.800 per dolar AS.
Analis mata uang dari DOO Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah dipengaruhi meningkatnya sentimen risk off di pasar global. Menurutnya, penguatan dolar AS terjadi di tengah aksi jual besar-besaran pada berbagai instrumen investasi global, mulai dari obligasi, saham, aset kripto, hingga mata uang negara berkembang. Kondisi itu dipicu kekecewaan investor terhadap hasil pertemuan antara Xi dan Donald Trump yang dianggap belum memberikan kepastian terkait konflik AS-Iran.
Selain itu, kenaikan harga minyak mentah dunia juga turut memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Sebelumnya, Lukman memperkirakan pergerakan rupiah akan berada di kisaran Rp17.550 hingga Rp17.650 per dolar AS. Namun tekanan pasar yang semakin kuat membuat pelemahan rupiah bergerak lebih dalam dari perkiraan awal.
면책 조항: 본 게시글에 표현된 견해는 전적으로 작성자의 견해이며 Followme의 공식 입장을 대변하지 않습니다. Followme는 제공된 정보의 정확성, 완전성 또는 신뢰성에 대해 책임을 지지 않으며, 서면으로 명시적으로 언급되지 않는 한 해당 내용을 기반으로 취해진 어떠한 조치에 대해서도 책임을 지지 않습니다.

- 끝 -