
Harga saham Boeing Co. di New York Stock Exchange (NYSE) melorot hingga 4,29% ke level US$ 327/saham atau Rp 4,57 juta/saham (asumsi kurs Rp 14.000/US$) setelah perusahaan pembuat pesawat asal Amerika Serikat (AS) ini menyampaikan akan menghentikan produksi jet 737 Max di Januari 2020.
Data perdagangan NYSE mencatat, pada perdagangan Senin (16/12/2019) waktu setempat, saham Boeing sempat mencatat level tertinggi US$ 336,23/saham, dan terendah US$ 326,43/saham.
Akhir pekan lalu, saham Boeing masih berada di level tinggi yakni di level US$ 341,67 dengan level pembukaan mencapai US$ 346/saham. Bahkan pada 11 Desember lalu, sahamnya menembus 350/saham.
Di Bursa Nasdaq, saham Boeing Co juga minus 4,95% di level US$ 324,75/saham atau ambles 16,92 poin. Saham pabrikan pesawat yang berdiri sejak 15 Juli 1916 ini masuk dalam dua indeks utama di bursa Wall Street yakni Indeks Dow Jones dan S&P 500.
Boeing, menyampaikan keputusan pada Senin (16/12/2019) waktu setempat, bahwa setelah rapat yang dilakukan selama 2 hari oleh para direksi perusahaan yang berbasis di Chicago itu, mereka akhirnya menghentikan produksi 737.
Izin yang tak kunjung datang dari Administrasi Penerbangan Federal (FAA) AS memupuskan harapan Boeing, yang semula menargetkan grounded tipe pesawat itu hanya akan berlangsung hingga akhir tahun ini.
Sebelumnya, FAA tidak memberikan izin pada 737 Max untuk kembali ke layanan penerbangan hingga tahun depan.
"Kami tahu bahwa proses persetujuan agar 737 Max kembali ke layanan ... harus luar biasa teliti .. untuk memastikan kepercayaan regulator, pelanggan, masyarakat pada pembaruan dari 737 Max," ujar Boeing dalam sebuah pernyataan seperti dikutip dari CNBC International.
"FAA dan otoritas pengatur global menentukan batas waktu untuk sertifikasi dan kembali ke layanan ... Kami tetap berkomitmen ... Adalah tugas kami memastikan setiap persyaratan dipenuhi dan setiap pertanyaan dari regulator kami jawab."
Meski demikian, menurut sumber Reuters, perusahaan tidak berencana melakukan pemangkasan tenaga kerja.
Pabrik pembuat 737 Max berada di Renton, Washington. Sekitar 12.000 pekerja akan dipindahkan sementara ke pabrik lainnya.
Boeing 737 Max sudah dilarang terbang sejak Maret 2019 setelah dua kecelakaan pesawat terjadi di Indonesia dan Ethiopia yang menewaskan 346 jiwa, hanya dalam lima bulan.
April, perusahaan juga memangkas produksi hingga 20% menjadi 42 pesawat per bulan. Saat ini setidaknya ada 400 pesawat Max yang berada di fasilitas parkir utama Boeing di Washington.
Sementara itu, saham Boeing di bursa AS Wall Street turun lagi 1% setelah berita ini diumumkan. Padahal sebelumnya di perdagangan sesi reguler, saham perusahaan yang berkode BA.N juga sudah turun 4%.
Dicetak ulang dari CNBC Indonesia, hak cipta isi berita dimiliki oleh pemilik asli.
면책 조항: 본 게시글에 표현된 견해는 전적으로 작성자의 견해이며 Followme의 공식 입장을 대변하지 않습니다. Followme는 제공된 정보의 정확성, 완전성 또는 신뢰성에 대해 책임을 지지 않으며, 서면으로 명시적으로 언급되지 않는 한 해당 내용을 기반으로 취해진 어떠한 조치에 대해서도 책임을 지지 않습니다.
